INILAH PENGALAMAN KAMI..
Pengalaman pertama dari Aditya.
Musuhku si Rasa Malas
Hai, namaku Samuel
McCallister. Aku sangat beruntung karena aku terlahir dalam keluarga yang sangat kaya. Ayahku adalah
seorang pengusaha kebun kelapa sawit dan Ibuku adalah seorang designer
terkenal. Aku menjalani hidupku dengan sangat santai karena semua kebutuhanku
sudah terpenuhi. Sehari-hari aku menghabiskan waktu bermain game, pergi ke
mall, nonton film dan lain-lain. Tetapi semua kehidupan ini membuatku menjadi
malas. Di sekolah aku tidak menjadi yang terpintar, tapi juga bukan yang
terburuk. Aku berada di tengah-tengah. Aku menganggap hal ini baik-baik saja,
selama aku tuntas dan naik kelas itu sudah menjadi pencapaian terbiaikku.
Ada
seorang anak dikelasku, ia orangnya bisa dibilang bodoh, pendiam dan sangat
kuper. Ia menghabiskan waktunya dikelas hanya duduk dan tidur seharian. Tidak
seperti aku yang selalu ramai dan nakal dikelas. Setiap pagi aku selalu
mengerjakan PR-ku di sekolah karena aku sangat malas. Temanku ini tidak
mengerjakan PR-nya juga tetapi ia tidak
berusaha untuk mengerjakan tugasnya. Aku selalu berpikir bahwa ia tidak ingin
sekolah atau bergaul. Setelah beberapa bulan sekelas, aku mendapatkan tugas
kelompok dan aku satu kelompok dengan dia dan 2 orang temanku lagi. Tugas
kelompok ini kebanyakan dikerjakan oleh 2 teman yang rajin sedangkan aku hanya
membantu sedikit, tetapi temanku yang satunya sama sekali tidak mau kerja. Aku
berkata kepadanya bahwa jika ia tetap bersifat malas ia tidak akan sukses. Ia
tidak menghiraukan nasehatku. Mungkin ia berpikir bahwa aku juga sama malasnya
dengan dia, jadi mengapa ia harus menuruti nasehatku.
9
tahun berlalu, aku belum mendapatkan pekerjaan bahkan pacar. Orang tua
membelikanku rumah sendiri dengan sagala fasilitas yang lengkap. Tetapi aku
hanya duduk seharian bermain game online dan jika bosan aku pergi dengan
teman-temanku. Aku terkadang berpikir sampai kapan aku terus
menghambur-hamburkan kekayaan orang tuaku. Tetapi karena pengaruh yang kuat
dari rasa malas, aku tidak terlalu menghiraukan isi hatiku.
Pada
suatu siang, aku membuka Instagram, aku terkaget karena aku melihat sebuah
postingan baru. POstingan itu berisi foto teman lamaku yang dulu sangat pendiam
dan malas. Di foto itu ia terlihat sangat berbeda. Ia berfoto dengan senyum
yang sangat lebar dan dibelakangnya terdapat background kantor NASA. Ternyata
ia sekrang bekerja di NASA. Aku berkata dalam hati, bagaimana ia melakukannya,
ia dulu juga malas seperti aku, bahkan lebih parah. Aku ingin bertanya
kepadanya, tetapi aku merasa ia tidak akan mau berbicara denganku setelah apa
yag aku katakana padanya pada saat SMA, apalagi ia sekarang sudah sukses. 4
hari setelah postingan itu, aku mendapatkan kabar buruk, Ayahku terkena
penyakit kanker kelenjar getah bening. Biaya pengobatannya pun sangat mahal.
Banyak aset yang dijual untuk menyembuhkan Ayahku. Aku akhirnya tersadar.
Aku
bertanya kepada temanku yang sekarang bekerja di NASA, ia merespon dengan
cepat, ia berkata bahwa ia hanya merubah satu sikapnya, yaitu rasa malasnya ia
hilangkan. Ia berkata ia berubah saat kedua orang tuanya meninggal dalam
kecelakaan. Ia berpikir bahwa ia tidak bisa membanggakan orang tua, jadi ia
berusaha untuk sukses. Mendengar ceritanya aku sangat tersentuh, aku tetap
ingin membanggakan orang tuaku selama mereka masih hidup.
Sejak
hari ini, aku mengubah sikapku, aku menjual mobilku dan beberapa
barang-barangku untuk membuka usaha kecilku, sebuah toko baju. Awalnya memang
susah tetapi jika kita tetap berusaha sekuat tenaga, pada akhirnya kita akan
sukses.
Pengalaman kedua dari Anita.
Kelemahan yang dimiliki seseorang pada dasarnya hampir sama,
yaitu kemalasan. Hampir, bahkan semua orang didunia itu pasti memiliki
kelemahan yang satu ini. Begitupun juga dengan saya. Saya juga memiliki
kelemahan berupa kemalasan.
Banyak cara yang saya coba untuk mengatasi hal itu, terutama
kemalasan dalam belajar. Namun, berkali-kali hal yang saya lakukan tidak
membuahkan hasil. Bahkan selalu gagal. Hingga saya belajar dari suatu kisah.
HARAPAN
Suatu saat ada seorang remaja bernama Alice. Alice adalah
anak yang sangat baik pada dasarnya, namun sejak orang tuanya bercerai, dia
menjadi seorang anak yang sangat nakal, selalu pulang pada pagi hari, clubbing, dan menghambur-hamburkan uang.
Dia mengalami DO disekolahnya sebanyak 2 kali.
Hingga pada suatu hari, orangtua Alice memasukan Alice ke
sebuah sekolah. Sama seperti yang dia lakukan disekolah sebelumnya, Alice tidak
pernah mematuhi semua peraturan. Hingga suatu saat Ia dihukum mengecat tembok
sekolah oleh tatib, namun ia melarikan diri.
Saat melarikan diri dari hukuman, Alice melewati ruang musik
dan berhenti disana. Alice berhenti, karena mendengarkan sebuah alunan musik
yang sangat indah, dulu Alice juga merupakan seorang pianis. Alice memasuki
ruangan itu, disana Ia menemukan sang pemiliki alunan tersebut. Seorang anak
laki-laki berwajah tampan. Dia mengenakan hoodie berwarna
navy. Laki-laki itu melihat Alice dan tersenyum dan mengajak Alice untuk
bergabung. Laki-laki itu bernama Ken.
Setelah hari itu, mereka menjadi teman dekat dan semakin
dekat saat Pak Thomas memerintahkan Ken untuk mengajari Alice disemua bidang
palajaran. Namun, setiap Ken memberikan pengajaran, Alice selalu tidak pernah
memperhatikan, namun Ken tak patah semangat dan terus mengajari Alice.
Hingga suatu saat, Ken tak pernah terlihat disekolah. Sudah
Seminggu Ken tidak pernah menunjukan diri disekolah. Alice mencoba menghubungi,
namun tetap tak bisa. Hingga Alice menerima kabar, bahwa Ken masuk ke rumah
sakit.
Alice mengunjungi Ken dan darisitu Ia mendapat sebuah
kenyataan bahwa Ken mengidap sebuah penyakit, dan hidupnya tak akan lama. Alice
ingin membahagiakan sahabatnya untuk yang terakhir kali, Alice belajar dengan
giat agar dapat memperoleh nilai yang memuaskan pada ujian akhir.
Alice mencoba menyingkirkan semua rasa malasnya. Sulit
memang ia lakukan, namun Ia terus berusaha untuk sahabatnya itu. Hingga pada
saat pengumuman Alice mendapat nilai tertinggi disekolahnya. Alice ingin
memberikan kabar bahagia itu pada Ken, namun Tuhan berkata lain. Saat Alice
sampai dirumah sakit dan memasuki kamar Ken, pada saat itu juga, Ken
menghembuskan napas terakhir. Tangis tak dapat Ia bendung. Alice menangis
sejadinya.
Setelah kejadian itu, Ia sadar bahwa sebenarnya hanya
dibutuhkan sebuah tekad untuk mencapai sesuatu.
Dari kisah ini saya belajar. Bahwa untuk menghilangkan
sebuah kemalasan, hanya dibutuhkan tekad, keteguhan hati, dan tujuan. Sebuah
tujuan yang ingin dicapai untuk kebahagiaan. Kebahagiaan diri sendiri atau
kebahagiaan orang lain. Sebuah kebanggaan yang dapat diceritakan pada masa
kelak. Dari situ saya belajar bahwa kemalasan dapat dihilangkan dengan tekad,
tujuan, dan tindakan nyata.
Pengalaman ketiga dari Richard.
Kita
sebagai manusia pasti memiliki yang bernama kelemahan dan salah satu kelemahan
kita yang paling buruk adalah malas. Malas itu dirasakan baik dari anak kecil
maupun sampai orang dewasa tanpa terkecuali.
Hal ini sangat berpengaruh pada
kehidupan kita. Banyak dari kita mencoba untuk tidak menjadi malas tetapi
juari stru sebaliknya dan kita mungkin bertambah malas dalam melakukan hal-hal yang
mungkin kita anggap sepele. Untuk mengatasi malas ini kita harus membuat goal anatu tujuan yang ingin kita
capai dan kita harus terus berusaha untuk mencapainya walaupun kita jatuh
bangun dan menemui banyak halangan yang ingin menggagalkan tujuan yang kita
capai. Banyak orang yang tidak ngin orang yang dibencinya sukses dan mereka
dapat memakai cara apapun untuk menggagalkan tujuan orang yang mereka benci.
Pengalaman keempat dari Tasha.
Banyak anak yang ngalami kemalasan. Kemalasan adalah sesuatu yang wajar bagi anak-anak sekolah dari jaman dahulu hingga sekarang ini. Tapi sesunggugnya penyebab seseorang dari malas belajar adalah karena tidak adanya sebuah tujuan.
Seperti hal yang aka alami. Pada awalnya aku tidak memiliki sebuah tujuan yang jelas. Namun setelah aku membaca suatu kisah aku belajar banyak hal dari cerita ini. cerita ini berjudul.
GOAL
Seorang anak kecil bernama Relly
hidup dangan ayahnya yang miskin. Hidup mereka sangat susah sekali,
setiap hari ayahnya harus berkerja sebagai seorang buruh untuk
menghidupi anaknya. Ia berkerja mulai pukul 5 pagi hingga 12 malam
setaip harinya. Penghasilannya tergolong kurang untuk menghidupi
keluarganya.
Pada suatu hari ayah Relly sakit
parah. Ia menderita kanker, untuk mengobatinya diperlukan biaya yang
sangat banyak, namun belum tentu kanker itu dapat disembuhkan. Maka dari
situ Relly mencoba membantu ayahnya dengan berkerja, namun ayahnya
tidak memperbolehkan. PAda akhirnya ayah Relly pun meninggal dunia
karena tak dapat berobat.
Sejak sepeninggal ayahnya, Relly memutuskan untuk tidak sekolah, karena menurutnya hidupnya sudah tak berarti tanpa ayahnya.
Disuatu hari, Relly mengelilingi
sebuah taman. Disana Ia melihat seorang pengusaha. Pengusaha ini sedang
berbincang dengan keluarganya, dengan senyum di wajahnya. Relly pun
mulai merasa iri dan sedih, namun tak disangka pengusaha itu
manghampirinya dan bertanya kepadanya, mengapa Ia disana sendirian. Dan
tanpa disangka sipengusaha itu menawarkannya sekolah dan membuatnya
menjadi orang yang sukses.
Sejak saat itu, Relly mulai optimis
dan mau sekolah seperti dulu lagi. Ia belajar dengan sangat giat dan
membuat goal. Ia ingin menjadi orang yang sukses. Ia ingin memenuhi
kebutuhannya kelak dengan layak, karena ia tidak ingin kehilangan orang
yang ia sayangi untuk kedua kalinya, dengan kesalahan yang sama.
Bertahun-tahun berlalu. Dari usahanya
giat belajar untuk menjadi orang sukses membuahkan hasil. Relly pun
menjadi seorang pengusaha sukses dan memiliki keluarga yang bahagia.
Dari sini kami mengambil kesimpulan
tentang sebuah GOAL. Jika seorang pelajar memiliki sebuah GOAl, makan
besar kemungkinananya orang itu akan giat belajar. Ia akan merasakan
bahwa belajar bukanlah hal yang membosankan, karena memiliki tujuan yang
jelas. Selain itu, dari sini kami juga belajar bahwa kami harus
memiliki strategi unutk mencapai GOAL itu. Terlebih juga semangat.
seorang harus memiliki semangat agar semua itu dapat terwujud.
Sekian, itulah sebuah kisa masing-masing dari kami. Setiap orang memiliki kelemahan. Kelemahan manusia selalu berbeda dan beraneka ragam. Namun, tak sedikit pula yang memiliki kelemahan yang sama. seperti halnya kami berempat. Dari kelemahan yang sama ini kami saling belajar satu sama lain. Kami memsharingkan kisah kami kepada teman-teman.
Sebenarnya, mensharingkan sesuatu kepada seseorang yang tidak begitu dekat adalah sesuatu yang sulit. Namun, dengan adanya kegiatan pembinaan disekolah semua itu menjadi mungkin. Karena kami semua telah menjadi satu keluarga yang baru.